Tampilkan postingan dengan label Fotograf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotograf. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

[How to] Membuat tonal IR / False Color dengan Photoshop

Tonal IR (Infra Red) adalah sebenarnya dihasilkan oleh filter IR yang dipasangkan diujung lensa, atau dedicated IR camera yang sensornya memang dibuat sedemikian hingga, sensor camera menjadi sensitif terhadap spectrum cahaya infrared, sedangkan sebagian besar spectrum cahaya yang wajar terlihat oleh mata, diblok oleh filter didepan sensor.

Bagi beberapa orang, tonal IR memberikan nilai seni tertentu dan memberikan keunikan yang indah. Oleh karena itu tonal IR sering dipakai dalam foto-foto pre-wedding, karena memang tonal warnanya yang unik tapi indah. 

Kesulitan mendapatkan tonal IR dengan fotografi secara langsung adalah, jika kita menggunakan filter yang dipasang diujung lensa, maka, intensitas cahaya yang masuk ke lensa akan jauh menurun, karena hanya spectrum cahaya IR saja yang dimasukkan sampai kesensor, sedangkan yang lainnya ditahan. Hal ini mengakibatkan exposure time yang lebih lama, sehingga model harus menahan pose lebih lama dan pemotretan agak susah bila harus dilakukan secara handheld, jadi harus dilakukan dengan tripod. Kesulitan kedua, jika menggunakan dedicated IR camera adalah, tidak mudah mendapatkan kamera model begitu, pada umumnya adalah camera digital yang dimodifikasi dengan menempelkan filter IR tepat didepan sensor. Tentu saja ini buka langkah yang mudah dan murah, membutuhkan pengorbanan jika proses modifikasi tidak berjalan seperti seharusnya, bisa-bisa korban sensor atau korban kamera.

Nha....untuk mengatasi kesulitan tersebut, kita tetap bisa mendapatkan taste  tonal IR dengan cara yang lebih mudah , yaitu dengan bantuan tool post processing  foto, dengan Photoshop misalnya. Meskipun hasil dari process dengan photoshop tidak sama persis dengan hasil menggunakan 2 cara yang sebelumnya, tapi masih lumayan lah, bisa dijadikan referensi untuk mendapatkan tonal unik IR.

Berikut ini ada sedikit share dari teman saya, Ricky Atmanoegara, yang saya copast kesini.

Bikin Photo False Color / Fake IR dengan Photoshop :



  • Pertama buka file yang akan diedit FC dengan Photoshop, versi apapun sama aja intinya saya pakai yang CS

  • Lalu pilih New Adjustmen Layer > lalu pilih Hue & Saturation seperti dibawah ini,,
  • Lalu setelah itu akan muncul Layer Hue & Sturation,, dan Adjustmen nya,,


  • Klik Icon - color selection, seperti yang tertera pada kotak merah no 2,terus cursor nya akan berubah seperti pinset, lalu klik kan pada dedaunan yang akan diubah warnanya,, seperti contoh pada kotak merah no 3..
  • Lalu geser2 slider Hue nya pada adjustmen box kotak merah no 4, atur value nya terserah selera agan aja,, setelah oke, lanjut ke Sauration nya,, sesuaikan saturasi warnanya agar enak dipandang aja,,  dan begitu juga dengan Lightness nya,, sesuai selera aja, kalau saya ya seperti itu value nya,
  • Sampai langkah kedua sebenernya sudah terlihat perubahan warna yang terjadi,, untuk selanjutnya sih sebenernya cuma selera saja, karena dalam photo saya ini pada langkah kedua masih terdapat warna keijo2an,, maka biar semuanya total menjadi biru,, saya pakai selective color.

  • Seperti cara kedua,, dari New Adjustmen Layer > pilih Selective Color, pada kotak merah No.2 pilih warna Green (karena yang mau dirubah warna ijo) terus atur2 Value nya seperti pada kotak merah No.3 - sesuai selera juga disini,, setelah dapat warna yang diinginkan- lanjuutt.
  • Untuk modifikasi saja biar warnaya agak lembut dan sedikit wash out gitu, pakai Gradien Fill...New Adjustmen Layer > pilih Gradien ....lalu muncul dialog box seperti pada gambar,,


  • Atur Value nya seperti pada kotak merah No.2 , atur-atur sesuai selera juga,,
  • setelah selesai - OK - , lalu Adjust Blending Mode nya ke Soft Light seperti pada kotak merah No.3, dan adjust Opacity nya sesuai selera,, begitu juga Fill nya, OK...
  • Biasanya setelah itu kontrasnya berkurang, untuk nambahin kontras biasanya saya pakai curve, New Adjustmen Layer > pilih Curve ....
  • Adjust kurva pada kotak No.2, untuk naikin kontras biasanya pakai kurva berbentuk huruf S, terus ubah opacity nya untuk mengubah seberapa kontrast yang kita inginkan.
  • Dan...Taraaaaa, Hasil Jadinya,,

hehehehehe,,, Selesai deh bikin photo FC atau Fake IR-IRan,,
segitu aja sharingnya,, semoga bisa dimengerti dan semoga berguna,,
mohon maap kalau belibet bahasanya

Salaam,,

*.credit goes to : Ricky Atmanoegara - thanks for the tuts

[How to] Membuat Efek Dave Hill's Style ato Dragan Effect menggunakan Adobe Photoshop Lightroom

Udah lama sih liat portofolio fotografer luar negri yg bernama Dave Hill, dan suka sekali dengan style nya, dia fotografer yg punya style dan konsep yg mateng banget, projectnya banyak untuk iklan, poster acara-acara televisi dan cover art album musik. Stylenya mirip-mirip Dragan's effect, yg menonjolkan high contrast dan clarity yg tinggi...

Dulu sih sempet bikin sendiri coba-coba, tapi masih kurang puas, setelah kemaren googling sana sini, dapet tutor yg setelah saya coba, lumayan memuaskan meskipun agak lebay dikit sih...heheheheh...:D

Ini beberapa contoh foto saya yang saya coba olah dengan Dave Hill's Style






Untuk step-step how to nya adalah sebagai berikut :
  • Buka Adobe Photoshop Lightroom (disini saya pakai versi 3.3), dan buka foto yang akan diolah, rubah mode ke "develop"
  • Naikin recovery, fill light, contrast, clarity, sama vibrance sampai mentok (100%)

  • Turunkan nilai saturasi, sampai nilai yg sesuai dg harapan....

  • Turunkan exposure sampai level yg enak dilihat....

  • Naikkan black sesuai keinginan...

  • Tambahkan vignette , atur nilai midpoint dan feather sampai sesuai...tambahkan grainy untuk menambah texture....

  • Dan hasil nya seperti pada contoh diatas.

Jumat, 04 Februari 2011

Trik Ngakalin Pin Aperture di Lensa G Nikon (untuk extension tube dan reverse ring)

Tutor ini sebenernya dah lama mo aku share, tapi lom sempet2 bikinnya,....baru kali ini sempet dan mau (*.ga males) bikinnya...

Bagi fotografer2 amatir yg seperti aku, yg baru belajar fotografi, pasti sangat antusias belajar fotografi dari barbagai macam teknik dan macem, maklum, ibarat pertumbuhan manusia, fotografer2 kaya gini masih bisa dibilang ababil :p....termasuk juga teknik macro fotografi.....

Tapi untuk belajar macro, dg dukungan dedicated lens , akan sangat riskan kalo hanya untuk sekedar belanja,kalo yg punya budget melimpah sih gpp, kalo fotografer ekonomis kaya aku kan ya berabe...apalagi harga lensa macro ga murah.....

Salah satu alternatif yg bisa dipake untuk merubah lensa yg ada menjadi lensa macro adalah bisa dengan membalik lensa dg bantuan reverse ring, ato dg bantuan extention tube....

Masalah baru akan muncul buat pengguna nikon yg lensa nya merupakan lensa type G. Lensa ini adalah tergolong lensa generasi baru nikon yg tidak memiliki aperture ring. Aperture ring adalah ring dibagian paling belakang body lensa yg bisa diputar2 untuk mengatur berapa lebar aperture yg diinginkan....Nha sedangkan di lensa G seriesnya nikon, aperture ring ini dihilangkan, perngarutan aperture dilakukan dari body camera, hal ini tentunya akan menyulitkan saat menggunakan reverse ring atau extention tube, karena aperture pin lensa tidak bersentuhan dengan coupling yg ada dibody camera.... Lalu bagaimana mengatasinya?kali ini aku akan kasih sedikit trik yang bisa dipake untuk mengatur bukak an aperture pada lensa G ini.

Perlengkapan yg dibutuhkan hanya, seutas benang sepanjang kurang lebih 60cm, yang akan digunakan untuk menarik dan menahan aperture pin lensa.

aperture pin (pin logam yg bisa digeser2 untuk mengatur aperture)



Langkah berikutnya adalah, lipat jadi dua benang tersebut menjadi sama panjang...., kemudian taruh lipatan benang tersebut di pin aperture lensa.


sangkutkan lipatan benang di aperture pin


Setelah lipatan benang tersangkut, tarik benang yg tersisa,sesuaikan tarikan benang dengan lebar bukak an aperture lensa, jika ingin lebar, tarik sampai mentok, jika ingin bukak an setengah dari keseluruhan bukak an (f11 atau f8), tarik setengahnya saja. Ikatkan diseputar pangkal lensa (mounting lensa ke bodu, tapi ingat, jangan sampai ikatan menjadi terlalu tebal, karena akan mengganjal mounting lensa). Ikatan disini adalah ikatan yg hanya diputar2kan saja di pangkal lensa, tidak perlu diikat kuat, karena ikatan ini hanya bersifat sementara, selama kita motret macro aja kan...pokok nya asal penarikan aperture pin tidak lepas aja.


tarik benang untuk mengature bukak an aperture

sesuaikan penarikan dengan seberapa lebar aperture yg kita inginkan

ikat, putar2kan sisa benang, disekeliling pangkal lensa untuk menahan aperture

lensa siap digunakan dengan extension tube ato reverse ring....


Seteah ikatan cukup bisa menahan aperture pin lensa, tinggal memasang lensa ke extension tube atau reverse ring, dan, whala...! this is it.....macro lens.....:p.
Selamat mencoba dan selamat berkarya....

PS : semua foto sample , diambil menggunakan lensa nikkor 50mm f1,4 + extension tube ring 1.

Selasa, 01 Februari 2011

Cara Set Preset White Balance DSLR Nikon

Banyak yg kebingungan dg White Balance, harus diset apa, milih apa, ngeset nya gimana....akhirnya pake auto....tapi efeknya kalo pake auto adalah biasanya jadi agak kebiru2an, akibatnya , gambar jadi terkesan cold...

Nha untuk ngatasin itu, sebaiknya jangan menggunakan auto, berdasarkan pengalamanku, lebih manteb pake preset....klo ada yg blom tau cara setnya...ini caranya....


  1. Set AF lensa jadi manual
  2. Set zoom, ke full zoom out
  3. Taruh greycard/white balance cap/tutup belakang lensa yg warna putih/kertas putih didepan lensa....ato arahin lensa ke tembok warna putih...
  4. Masuk shooting menu>white balance>preset manual>measure>klo ditanya "overwrite", pilih yes....jepret deh...
  5. Liat dipojok kiri atas, ada tulisan "acquired data" ga, klo ada, berarti udah sukses, tinggal make...klo blom, ulangi dari step 3.

silahkan mencoba


*. as info, aku nulis ini dg referensi camera D5000

Dan dibawah ini adalah set white balance untuk camera yg ada seting Kelvinnya...

*.sumber

Color Temperature Light Source
1000-2000 K Candlelight
2500-3500 K Tungsten Bulb (household variety)
3000-4000 K Sunrise/Sunset (clear sky)
4000-5000 K Fluorescent Lamps
5000-5500 K Electronic Flash
5000-6500 K Daylight with Clear Sky (sun overhead)
6500-8000 K Moderately Overcast Sky
9000-10000 K Shade or Heavily Overcast Sky

Senin, 17 Januari 2011

My Portofolio - Page 9 [ Selamat Tahun Baru 2011 ]

Heheheheeh...meskipun udah bisa dibilang telat, karena waktu posting foto ini dah tanggal 18, tapi foto2 yang aku ambil ini tepat pas malem tahun baru....

Lokasi pemotretan sih ga jauh2, hanya dibalkon depan kost an, soalnya mo ikut nimbrung di bundaran HI, males kesononya, pasti macet, jauh juga, ga da kendaraan sendiri soalnya, yah...jadi melewati tahun baru dengan nonton tv di kost an, sendirian....sambil nungguin jedar jeder bunyi kembang api,,,

Awalnya ragu juga sih, bisa ga ya nangkep kembang api kaya gitu, tanpa tripot lagi....ya dah lah tapi, handheld.. handheld deh...bodo amat...namanya juga belajar....

Diawal2 foto, agak ancur, soalnya salah persepsi, aku mikirnya exposure harus di level 0, tapi ternyata salah, soalnya malah asep dan langitnya jadi keliatan, dan ga kontrast ma fireworks -nya...ternyata, sikat di under exposure aja, tar pas cahaya kembang apinya nongol, malah akan terlihat cakep di BG langit yg item.....

Untuk panjang exposure, aku biasanya set di sekitar 2-3 detik aja cukup, soalnya handheld, tahan napas euy....klo pake tripod mah, bisa 5 detik ato lebih juga cakep....iso, set rendah aja, range 200-800 masih okay, aperture, pake yg agak sempit aja, biar ga mbleber cahayanya...bisa disekitar f8-f16....* .setting tersebut, berdasarkan pengalaman pribadi penulis, bukan berdasarkan buku ato literatur yg valid...:D

Dan hal berikutnya yg perlu dipikirkan adalah masalah focus lensa.....focus lensa bikin manual aja, soalnya kalo dibikin auto, ga mungkin akan bisa njepret, soalnya kan gelap....
Kita harus ngorbanin beberapa tembakan kembang api yg harus kita lewatin, karena kita harus menentukan dulu focusnya dimana. Nha untuk nentuin letak focusnya, kita bisa gunain tembakan2 awal buat ngepas in focusnya. Yah, lewat satu/dua tembakan sih gpp lah.....berkorban untuk hal yg cakep...:D
Kalo udah pas, baru deh disikat tuh fireworks, tapi jangan lupa, tetep mikirin compo juga yak...

Ni beberapa hasil bidikan kembang api pertama ku.....ditunggu CnC nya....










Jumat, 10 Desember 2010

Nikon AF-S 18-105 VR or Sigma 17-70 DC Macro OS HSM ???

Belakangan ini aku lagi labil soal lensa (*.bukan "ababil"), dengan kekurangan lensa KIT dari D5000 (AF-S 18-55 VR) yg terbatas disisi focal lengthnya yg hanya mentok di 55mm, aku ngerasa ni lensa ga memenuhi kebutuhan untuk street photography , yg belakangan aku suka lakukan.

Karena pertimbangan itulah, aku memutuskan mengencangkan ikat pinggang (*.meskipun tetep njemblung) buat nabung demi mengejar target lensa dengan focal lenght yg agak lebih panjang di level midrange....bukan tele.


nikon AF-S 18-135

Pada pemikiran awal, sempat tertarik untuk ngambil AF-S 18-135, dan setelah baca di salah satu situs review fotografi (slrgear.com), keliatannya lens ini lumayan bagus. Tapi setelah dilihat2, wah , langsung membatalkan pilihan, karena ternyata lensa ini belum dilengkapi dengan fitur VR (VIbration Reduction), yang aku rasa, akan sangat dibutuhkan di FL panjang.


Nikon AF-S 16-85 VR

Kemudian, setelah membatalkan pilihan itu dan melihat review-review yang ada di forum, atau di beberapa album OnLine, aku liat lensa nikon AF-S 16-85 VR lumayan disarankan karena ketajamannya yg bagus, range FL yg panjang, dan nilai CA (Chromatic Abberation) yg minim. Dengan body yg lebih solid dari kebanyakan lensa nikon, yaitu dg mounting lensa yg udah metal, lensa ini di claim lebih bagus dari sisi build quality. Tapi lagi-lagi aku harus membatalkan pilihan ke lensa ini. Harganya ternyata diluar jangkauan. Pada saat aku nulis artikel ini, harga lensa ini masih dikisaran Rp. 5.800.000. :hammer. Aku kira akan lebih wise kalau aku beli lensa dengan harga dibawahnya tapi dengan kualitas optik yg tidak kalah, kan sisanya bisa buat ngejar lensa tele :D .

Nikon AF-S 18-105 VR

Setelah itu aku mulai mencari2 dan membaca2 review lagi, dan akhirnya aku mulai tertarik dengan lensa KIT D90, yaitu AF-S 18-105 VR. Aku liat lensa ini tajam, sedikit CA di FL pendek dan diakhir, dan Vignette yang tidak terlalu mengganggu. Tapi banyak fotografer diluar negri yg bilang kalau distorsi lensa ini gede banget. Tapi aku sih ga terlalu ambil pusing soal distorsi, lumayan lah, ga perlu beli fish eye klo dah ada distorsinya, hehehehehe.....:D .

Tapi tadi siang , perhatianku sedikit tersita, dan mungkin membuatku jadi labil dalam menentukan pilihan. Aku teringat beberapa saat yg lalu temenku pernah bilang kalau dia akhirnya beli lensa midrange yg focusnya cepet, dengan bukak-an yg relatif lebar , f2,8 , maka lensa itu katanya lumayan bagus untuk capturing di tempat indor dan lowlight. Selain itu, lensa tersebut juga dibekali dengan motor internal HSM (High Speed Motor) dan juga fitur Optical Stabilization (OS). Si produsen lensa itu meng-klaim kalau lensa itu adalah lensa Macro dengan jarak focus terpendek lebih dekat daripada lensa lain, pastinya lupa aku..... :p . Yak, lensa itu adalah Sigma 17-70 DC Macro OS HSM.

Sigma 17-70 DC Macro OS HSM

Dari testimoni temenku beberapa waktu lalu sih, katanya lumayan sharp hasil dari lensa ini. dan yg bikin dia mutusin ambil lensa ini adalah karena Fast Focus nya....karena aperturenya lumayan lebar.... Tadi siang aku coba liat review lensa ini di beberapa situs fotografi, dan hampir semua merecomendasikan lensa ini. Data statistik dari lensa ini juga bagus, CA dan distorsi yang rendah, namun dikatakan kalau lensa ini mempunyai nilai vignette yg tinggi pada FL pendek (sekitar 18-25mm), tapi buat aku, vignette juga bukan masalah.

Yang membuatku makin bingung, setelah aku cari di situs album foto Online FLICKR, ternyata aku kurang puas dengan hasil foto2 dari lensa ini, malahan aku masih merasa lebih puas dan bisa menikmati hasil foto2 dengan lensa nikon AF-S 18-105 VR tadi. Aku rasa, hasilnya lebih sharp, lebih saturated dan lebih jernih...tapi...
who the hell knows...:D ....dengan perbedaan harga yg lumayan, sekitar Rp. 1 juta dengan harga Sigma yg lebih mahal....kayanya aku perlu cari wangsit lagi buat milih yg mana yg mo diambil......

Bertapa dimulai.... hehehehe......